Jangan ganggu keikhlasan kami..!!!

Jangan ganggu keikhlasan kami..!!!

di tulis oleh : oky rachmatulloh

Dulu alm ust nasrulloh zainul muttaqien dan KH Hidayatulloh zarkasyi dua bersaudara dari 9 putra putri kh imam zarkasyi pada   masa kecilnya pernah di marahi ayah mereka cuma gara gara ada wali santri begitu perhatian kepada mereka kemudian memberikan roti, makanan yg tentu mereka sukai pada waktu beliau beliau ini masih anak anak. Sedemikian marahnya kh imam zarkasyi sampai keduanya diminta memasukkan kedua roti yg diberikan tamu wali santri tadi ke dalam wc, di guyur sampai hanyut. Demikianlah marah ya kh imam zarkasyi karena melihat Keduanya memegang roti Yg diberikan wali santri kepada beliau beliau. 

Bagi antum wali santri yg belum tahu budaya Gontor, barangkali akan langsung berfikir,* apa salahnya sih wong cuma roti saja lho, dan Biasanya wajar kan kalau wali santri memberi sekedar kue kepada putra kyai..... Iya, barangkali wajar menurut kita.... Tapi bagi kyai zarkasyi itu sangat mengganggu

Pertama adalah masalah prinsip beliau bahwa *keilmuan diletakkan di Gontor di atas segalanya, bahkan diatas nasab keturunan kyai.* Keturunan kyai menurut beliau bukanlah seseorang yg can do no wrong. Bebas melakukan apa saja, dan pasti akan dapat pesantren asuhan ayahnya ketika dewasa. Maka itulah Gontor di wakafkan, agar tidak jadi ajang rebutan putra putri kyai kelak ketika dewasa. Alm ust nasrulloh zainul muttaqien dulu pernah berkata kepada jajaran guru baru di Gontor. 

"kalian kalian ini lebih berhak jadi pimpinan Gontor daripada saya. Karena saya bukan lulusan Gontor (meski beliau keturunan kyai zarkasyi). Sedangkan kalian lulus Gontor bahkan jadi guru di Gontor. Dan syarat jadi pimpinan Gontor satu, sudah lulus Gontor. Itu sudah kalian miliki, dan saya tidak pernah memilikinya"

Yg kedua adalah takutnya kyai zarkasyi atas terganggunya keikhlasan beliau ketika mengajar. Keikhlasan yg beliau tanaman, beliau didikkan, atmosfer keikhlasan yg beliau ciptakan dan lingkungan keikhlasan yg beliau dirikan bisa jadi akan berantakan dengan kue dari wali santri itu. Bagi kita yg terbiasa hidup dengan fikiran segalanya bisa diperoleh asal ada uang, tentu bukan hal aneh jika kita memberikan pulsa, sarung atau sajadah kepada wali kelas. Hanya itu, tapi pernahkah antum fikirkan betapa susahnya bagi orang yg antum beri untuk membalas kebaikan antum itu. Jika putera antum ingin mendapat perhatian dari wali kelasnya, maka seluruh kelas juga harus mendapat perhatian yg sama. Dan antum bisa bayangkan susahnya wali kelas untuk berbuat adil ketika kenaikan kelas misalnya, putera antum secara nilai mungkin masuk kategori  tidak naik, tapi secara manusiawi pasti ada perasaan tidak enak hati dari wali kelas untuk Tidak menaikkan. Ini manusiawi sekali, orang yg diberi jasa, tidak akan melupakan pemberi jasanya itu. 

Kenapa artikel ini saya buka dengan cerita kyai zarkasyi dan ketegasan beliau diatas?? Karena menurut salah seorang alumni bercerita kepada saya bahwa di pondok cabang dimulai dibentuknya grup kelas, maka setelah itu akan datang pulsa kepada wali kelas, lalu emas, bahkan di pondok cabang ada yg mengirim wali kelasnya dikirim  uang 15 juta, dron, bahkan ada yg dikirim motor. Saya meradang membaca laporan alumni tersebut, dia menyebut adik adik angkatanya sering menerimanya tanpa mereka memintanya, dan dia juga merasa jengah melihat fenomena ini. 

*Jangan merusak keikhlasan ini,* keikhlasan ini sudah di bangun hampir 1 abad lamanya di Gontor. Lingkungan keikhlasan ini sudah di didik kan kepada kami sehingga  mendarah daging di tubuh kami segenap penghuni Gontor, bahkan kami tidak bisa berkata apa apa ketika kami ditanya kami di gaji berapa? Keikhlasan yg membuat kami bangga menjadi pengoreksi ujian meski cuma dibayar kerupuk sama sambel pecel, keikhlasan yg membuat kami mau begadang memasukkan nilai tanpa bayar sepeserpun. Keikhlasan yg membuat kami bersedia menjadi tukang angon kambing dan sapi qurban tanpa dibayar. Keikhlasan yg menguatkan kami.... Jangan pernah dikotori... Jangan sampai di nodai oleh hal2 yg merusak seperti itu... KEIKHLASAN ITU MAHAL

Dulu pernah ada guru - guru DI UKK (Koperasi guru) mendapat bonus dari suplier yg merasa diuntungkan penjualannya oleh Gontor. Kyai syukri marah besar. *"jangan merusak keikhlasan!! Semua bonus penjualan harus di laporkan ke adm (administrasi) semua guru harus menikmati...!!* Jangan mengusik keikhlasan kami" kurang lebih demikian murkanya kyai syukri mendengar guru yg mendapat bonus dari suplier. Padahal yg jaga juga guru2 itu, yg menghitung untung rugi juga guru2 itu, yg menemui suplier juga guru2 itu. Apa salahnya menerima bonus?? Karena bonus itu menggerogoti keikhlasan kami. 

Maka wahai para wali santri, bantu kami guru guru muda itu untuk senantiasa ikhlas mengabdi untuk Gontor, kepada umat, kepada agama ini. Kami sudah menjual diri kami kepada Allah, menjual harta kami kepada Allah, menjual waktu kami untuk Allah, nanti akan kami ambil keuntungan kami di akhirat, sekali lagi, jangan nodai keikhlasan kami dengan memberi kami pulsa, emas, dron, bahkan mungkin motor kepada kami, itu tidak sebanding dengan pahala yg kelak insya Allah kami terima dari Allah.


Pena kita

 Semangat Guruku

*قَدْ اِحْتَفَلَ المُجَاهِدُوْنَ مِنَ الجُمْهُوْر*

Para pejuang dari banyak kalangan telah berkumpul.

*لِأَنْ يَقْتَبِسُوْا حِكْمَةَ مُرَبِّيْهِمُ الوَقُوْر*

Untuk mempelajari hikmah dari guru mereka yang bijak.

*فَاتَّخَذَ المُنْقِذُ بِإِقَامَةِ الحَقِّ المَأْثُوْر*

Kemudian, ia, sang penyelamat, mendirikan kebenaran yang sudah tertulis turun menurun.

*فَآنَ الأَوَانُ لِإِيْفَاءِ عَزْمِ الأُمُوُر*

Sekaranglah waktunya untuk memenuhi hal-hal yang perlu diutamakan.




*قَلْبُهُ قَلِيْلٌ كَمَا كَانَ لِعِبَادِ الشَّكُوْر*

Hatinya langka seperti milik hamba-hamba tuhan yang maha pembakas budi.

*قَدْ اِلْتَزَمَ شَيْخَنَا أَعْوَامَ الدُّهُوْر*

Guru kita telah teguh dalam mendidik selama bertahun-tahun.

*بِالاِسْتِقَامَةِ فِيْ تَعْلِيْمِ المَيْسُوْر*

Dengan istiqamah dalam mengajarkan hal-hal yang mudah difahami muridnya.

*لِرِعَايَةِ مَعْهَدِهِ مِنَ الفُجُوْر*

Untuk menjaga pondoknya dari segala kerusakan.




*لاَ يَسْتَعْصِي لِأَيِّ الغُرُوْر*

Ia tidak terlena pada godaan dan kepentingan apapun .

*امْتَنَعَ مِنْ آفَةٍ بِالصَّدْرِ الصَّبُوْر*

Ia menghindari setiap penyakit hati dengan hati yang lapang dan sabar.

*وَلَا يَسْأَلُ مِنَ النَّاسِ الأُجُوْر*

Dan tidak meminta balasan dari manusia.

*لِحِمَايَةِ العِلْمِ وَمَعْهَدِهِ المَبْرُوْر*

Demi menjaga pondoknya yang terhormat.




*لَمّا آذَنَ النَّاسَ الحَقَّ وَالنُّوْر*

Ketika ia mengumandankan kebenaran dan cahaya.

*فَحَسَدَ لِمَا أُكْرِمَ غَيْظُ الشُّرُوْر*

Maka kemarahan senantiasa dengki akan apa yang dikaruniakan kepadanya.

*فَاعْتَدَتْ عَلَى المُكَرَّمِ أَنْوَاعُ الفُجُوْر*

Ia yang mulia kemudian dimusuhi oleh barbagai macam kemaksiatan.

*أَخَذَتْ يُصَارِعُ العِمَادَ شِدَّةَ المَعْسُوْر*

Ia yang mulia kemudian dimusuhi oleh barbagai macam kemaksiatan.




*فَقَاوَمَهُ بِالتَّقْوَى وَالعَطْفِ الصَّبُوْر*

Maka ia menantangnya dengan taqwa dan jiwa yang sabar.

*وَآيَاتِ المَحَبَّةِ فِيْ العَشِيِّ وَالبُكُوْرِ*

Dan dengan ayat-ayat cinta di waktu petang dan juga subuh.

*وَعَامَلَهَا بِخُلُقٍ شَرِيْفٍ غَيْرَ مَجْبُوْر*

Dan dengan ayat-ayat cinta di waktu petang dan juga subuh.

*فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ لَهُمْ عِنْدَ السَّحُوْر*

Dan dengan ayat-ayat cinta di waktu petang dan juga subuh.




*قَدْ مَرَّ بِنَا اليَوْمُ كُلَّ المُرُوْر*

Tahun demi tahun pun silih berganti.

*وَرَقَّ عَلَيْنَا عَطِيْفُ الشُّعُوْر*

Hati kita merasakan kesedihan yang mendalam.

*عِنْدَمَا نَتَذَكَّرُ بِعِزَّةِ المَغْفُوْر*

Jika kita teringat dengan kemuliatan guru kita yang diampuni Allah.

*وَهُوَ وَدَعَنَا إِلَى رَحْمَةِ الغَفُوْر*

Ia telah meninggalkan kita menuju tuhan yang maha pengampun.




*فَإِنَّهُ لِمَا تَرَكَهُ فَضْلٌ مَوْفُوْر*

Sesungguhnta apapun yang ia tinggalkan memiliki karunia yang sangat banyak.

*خَالِصَةٌ ثَوَابِتُهُ مِنَ الفُتُوْر*

Nilai-nilainya suci dari kelesuan.

* مُصَدِّقًا لِمَا اعْتَرَضَ عَنِ الزُّوْر*

Sebagai jawaban atas pengabdian yang ia lakukan yang tulus tanpa kebohongan.

*دَاوَمُوْا الحُسْنَى حَتَّى يَمَسَّهُ القُبُوْر*

Ia terus menerus melakukan kebaikan hingga ia disentuh oleh liang lahat.




*لَنْ يَنْقَرِضَ خَيْرُهُ مِنَ الصُّدُوْر*

Kebaikannya tidak akan hilang dari dalam hati.

*بَلْ تَبْقَى ضَوْءُ الشَّمْسِ يَثُوْر*

Akan tetapi sinar matahari akan terus bergairah.ئ

*وَإنَّ نِيْرَانَ الجِهَادِ لَنْ تَبُوْر*

Dan sesungguhnya api perjuangan tidak akan pernah dirugikan.

*وَنُصِرُّ عَلَى مَا فَعَلَ الغُبُوْر*

Dan kita akan meneruskan kebaikan apa yang telah diperbuat pendahulu kita.




*وَلَنِعمْ العَبْدُ مَنْ أَوْرَثَ الخَيْرَ بَيْنَ الغَرُوْر*

Dan sebaik-baiknya manusia ia yang mewariskan kebaikan diantara fenomena-fenomena dunia yang menipu.

*فَمَا أُوْتِيَ مِنْ بَعْدِهِ إِلَّا السُّرُوْر*

Karena ia tidak akan mendapatkan apapun setelahnya kecuali kebaikan.

*فَعَسَى أَلَّا نَكُوْنَ مِنْ قَوْمٍ بُوْر*

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang binasa.

*يَدْعُوْن عِنْدَئِذٍ إِنَّا لَفِيْ الثَّبُوْر*

Mereka berteriak pada saat itu sesungguhnya “kami dalam kehancuran”

*الفقير إلى علم الكبير*

*ذكر الدين الحامي*


DARI KITA UNTUK KITA

DARI KITA UNTUK KITA

Enam Bekal Wajib Bagi penuntut Ilmu (Imam Syafii)

Teringat ketika belajar dan mengajar adek-adek dipesantren beberapa tahun yang lalu, salah satu kitab yang tidak asing di beberapa pesantren baik salaf maupun modern, dan buku itu juga pernah menjadi rujukan pribadi ketika nenyelesaikan tugas akhir buku itu berisiskan tentang pendidikan dan adab di lingkungan pondok ialah kitab  Ta’lim al-Muta’allim  karya Syekh Imam azzarnuji

Kitab tersebut berisi banyak nadzam (syair dan doa) tentang bagaimana seseorang dapat menuntut ilmu dengan diiringi adab. Salah satu bunyi petikan nadzam kitab tersebut yakni: 

  أَخي لن تنال العِلم إِلّا بِسِتّة سَأُنبيك عن تَفصيلها ببَيانِ ذَكاء وَحِرص واجتِهاد وَبُلغَة وَصُحبَة أُستاذ وَطولُ زَمان

Yang artinya: Syarat mendapatkan ilmu itu ada enam. (Yakni) cerdas (sehat akal), rakus yaitu rakus dalam menyerap ilmu-ilmu, bersungguh-sungguh, cukupnya modal (harta, kemampuan, dan usaha yang keras), guru yang mengajarkan, dan waktu yang lama.

Di dalam dunia pendidikan, keenam elemen diatas wajib dimiliki para pelajar. agar segala ilmu yang dipelajari santri tidak hanya ilmu instan yang dikhawatirkan berujung pada keangkuhan akan ilmunya dan merasa sudah paling bisa dalam segalanya.

Pada kesempatan kali ini pribadi sedikit menggaris bawahi kaitannya dengan  bahwasanya salah satu dari enam eleman diatas menuntut ilmu harus dengan bulghoh(harta yang cukup, uang, bekal dll) 

Bekal di sini berkaitan dengan harta yang akan dikeluarkan oleh para pencari ilmu. Pada zaman dahulu para ulama rela mengorbankan harta benda dalam mencari ilmu. Bahkan ada yang menjual bajunya. Bahkan Imam Malik menjual atap rumahnya yang dari kayu.

Sedikit cerita dari bertukar cerita kami berkaiatan yang tidak jauh dari prihal pengorbanan dalam menuntut ilmu yaitu akan produktif dalam mengelola beasiswa dari pemerintah yang pada intinya beasiswa itu tidak serta merta dalam pemakaiannya kita jadikan ia sebagai hadiah untuk diri sendiri karena sudah berjuang  melawan diri sendiri dalam tantangan belajar, disaat yang sama bisa dipakai untuk menyisihkan kebutuhan atau hal-hal yang tidak terduga kaitannya dengan musibah dan lain sebagainnya, maka adapun biaya atau bekal yang murni dari diri kita akan terus tersalurkan dan kita sisihkan untuk ilmu itu sendiri hingga harta dan kecukupan kita akan jauh lebih berkah karena di anggarkan dalam rangka menghidupkan ilmu-ilmu ulama kita untuk kelangsungan pendidikan, maka bagi kami ini adalah suatu pola pikir yang harus berlajut dan dikembangkan dikemudian hari dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya kita mempunyai motivasi tersendiri dalam meningkatkan diri baik dari akademik maupun non akademik, menganggap segalanya adalah bagian dari proses  menemukan jati diri untuk kebaikan bersama kita nanti. 

Semoga bermanfaat wallahu'alam.


Bersyukur, Walau Penenku tidak sesuai harapan

Bersyukur, Walau Penenku tidak sesuai harapan

       

          Kecamatan bayan hijau warnamu, biru langitmu, dan yang terdiri dari beberapa desa kecil diantranya; desa anyar, desa bayan, karang bajo, loloan, mumbul sari, sambik elen, senaru dan sukadana. Semua penduduk desa hampir mata pencariannya adalah bertani, bahkan berbagai profesi lainnya disela-sela waktunya mereka meyempatkan untuk bertani begitulah gambaran begitu maraknya dan bahagianya sebagai petani di desa ini. Alfakir akan sedikit memberikan gambaran dan suasana bertani pada musim ini. Saat sekarang ada beberapa tananam yang manjadi harapan petani  diantaranya bawang, kacang, jangung, dan ada beberpa yang menanam padi, dan itu semua alasan para petani melihat di tahun sebelumnya hampir semua mendapatkan hasil yang lebih dari cukup yang memberikan rasa nyaman dalam melaksanakan penghambaan kepada sang kholik, maka dari bisa memantik para petani murni dan hanya sampingan yang mempunyai profesi lainnya. Wal hasil semua bershusnudzon akan ada campur tangan Allah dan yakin seyakin yakinnya akan janji Allah akan rizki hambanya. Setelah selesai dalam proses tanam menanam maka disinilah terlihat orang-orang yang sungguh dalam mengurusi tanamanya, dan pastinya semua petani sangatlah sungguh dalam megurusi tanamannya, namun hasil baik dan tidak belum pasti karena poreses dari pembibitan sampai penanamannya kita yang tentukan dan keadaan sekitar, cuaca dan tentunya masalah rezki Allah lah yang atur. Faktanya beberapa petani pada saat sekarang ada yang masuk dalam kategori orang beruntung dan kurang beruntung, karena banyak dari petani kacang yang hasil panennya hanya terlihat pohonnya yang tumbuh subur namun yang berisi hanya beberapa pohon dan bahkan tak sedikit yang hanya akar pancarnya saja, dan belum juga petani bawang masih belum tenang akan gangguan hama dan cuaca yang terlalu deras pada saat baru menanam yang mengakibatkan tak semua bibit tananaman tumbuh merata dan tentunya memberikan efek pada hasil panen. Belum harga yang berfariasi yang  cenderung menurun di beberapa tempat, tentu semua ini menjadi tantangan atau masalah bagi para petani.

       Maka dari itu beberapa hal diatas jika tidak di pandang dengan kaca mata Ilahi bahwa Dia yang menghidupkan segala sesuatu, Dia yang memberikan jatah setiap hamba maka kita akan hanyut dalam ke su'udzonan menganggap bahwa ketidak adilan sang maha pencipta, tentu itu semua tidak di benarkan, maka kita pandang itu sebagai bentuk ujian, pelajaran, bahwa itu semua ada hikmahnya ketika kita sudah sungguh  dalam menghidupkan bumi Allah ini dengan aturannnya toh juga masih belum sampai pada hasil panen yang di harapkan apalagi kurang diurus, kurang syukur, bahkan tidak diharapkan tentu hasilnya sangat tidak sampai pada hasil panen yang sehat sperti yang kita harapkan. Maka sekali lagi terkait ketidak suburan hasil penen yang kita petik pada saat sekarang ini, kita senantiasa terus bersyukur dan sabar, kita kedepannya harus merancang kembali target hasil panen, mempersiapkannya dengan sebaik mungkin dan tunduk pada perintah dan larangan-Nya karena dimana ada ketundukan terhadap-Nyadengan kafah(sempurna/menyeluruh) serta selalu bershusnudzon akan ujian, kita akan dijanjikan kabaikan-kebaikan, rizki-rizki yang tidak terduga dikemudian hari, amin allahumma aamiin. Wallu a'lam.

malam haflah

 Mua bilang apa ya🤔.....

Apa ukuran kebahagiaan bagi manusia? Mungkin sangat beragam jawabannya. Ada yang bahagia itu karena cita-citanya terwujud, kaya punya banyak uang, punya gelar sepanjang nama, jabatan dan pangkat dimana-mana, banyak disukai wanita/pria, macam-macam ukuran kebahagiaan dengan versi masing-masing individu. Tidak salah, wajar saja kita bahagia ketika meraih itu semua. Tapi apakah kebahagiaan ini sudah diletakkan pada tempatnya? Semua orang bebas merasakan apapun, termasuk menginterpretasikan kebahagiaan masing-masing. Tapi apakah itu makna atau hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya? Tentu bukan y, makna kebahagiaan yang sangat fundamental dan filosofis. Yakni kebahagiaan spiritual yang sampai kepada Pemilik dan Pemberi kebahagiaan. Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang. Cara meraih dan merasakannya bermacam-macam. Salah satunya melalui sahabat yang mengingatkan kita pada kebaikan dan pentingnya memaknai setiap proses dalam segala apapun walaupun sekecil apapun. Termasuk proses sampai disini.

Dulu,pernah ingin mundur selangkah saja. Namun, langkah itu justru malah selangkah maju dan terus melangkah, pada akhirnya sampai pada titik mlm ini.

Finally Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah...


PESAN PESAN LIBUR (K.H. ABDUL KARIM ABDUL GHOFUR) NURUL BAYAN

PESAN PESAN LIBUR (K.H. ABDUL KARIM ABDUL GHOFUR) NURUL BAYAN

       

Pesan-pesan liburan, K.H. Abdul Karim Abdul Ghofur

         Alhamdulillah segala puji dan syukur hanya milik-Nya dan selawat serta salam hanya tercurahkan kedapa putra terbaik, Nabi Muhammad SAW, semoga kelak kita mendapat syafaatnya, amin. Pada kesempatan ini alfakir sedikit engalng kembali pesan -pesan bapak pimpinan di malam Haflah 2021. beliau akan menyampaikan beberapa pesan yang sasarannya akan  dikemas dalam empat terma;  pertama pesan untuk santri, kedua pesan untuk wali santri, ketiga p esan kepada simpatisan dan yang keempat kepada seluruh cipitas lembaga.

         Sebelum sampai pada titik tekan pesan-pesan, beliau menyampaikan rasa syukur akan berjalannya proses belajar menagajar ditengah masalah dunia yang melanda yaitu covid19 namanya karena bagimanapun umumnya dengan adanya covid memberikan dampak besar terhadap pengajaran seperti halnya harus daring hingga saat ini, harapannya kedepan bisa jauh lebih baik agar kita bisa beraktivitas normal sebagaimana biasa. Disatu sisi beliau menyampaikan rasa maaf yang tulus kepada seluruh cipitas lembaga, wali santri dan lainnya terkait kebijakan pondok yang kadang tidak sejalan dengan wali terkait masalah kunjungan wali untuk menjenguk para mujahid mujahidahnya sehingga tidak jarang ada beberapa komentar yang tertuang  di sosmed (whats up) yang bersikan komplin wali, untuk meyakinkan para wali beliau sedikit memberikan contoh hal serupa yang dilakukan oleh beberapa pondok besar di jawa  yang terkait kebijakan protol kesehatan seperti gontor, tambak beras di jombang, di pasuruan, dan pondok besar lainnya namun itu semua kita yakin tidak lain hanya untuk memberikan kenyamanan bersama dan demi keberlangsungan peroses belajar mengajar dengan baik. Dan adapun pesan-pesan itu adalah; 

  • Pertama, kepada semua santri harus diingat selalu kedelapan pesan pondok; 1) selalu berjaah disetiap shalat. 2) selalu mentikror hafalannya yang sedikit, 3) menntilawah atau membaca qurannya setiap hari, 4) membaca dasar ilmu dari segi bahasa, ilmu social dan ilmu apa saja. 5) pakain harus senantiasa baik dan pantas karena bagaimanapun pakaian adalah salah satu cara melihat karakter anak. 6) anak jarus membantu orang tua sesuai dimana orang tua mempunyai lahan kerja dan profesi. 7) anak senantiasa pandai bergaul dengan kawannya dalam artian dia harus masuk dalam lingkungan kawannya agar dia mulai mengenal mana baik dan buruk. 8) dengan dia mulai mengenal karakter kawannya dia harus niat pelan-pelan mewarnai kawannya dengan nilai-nilai kebaikan atau kata lainnya dakwah, mulai mengajak temannya dalam koridor yang mengarah pada kebaikan. Kedelapan pesan tersebut harus diniati harapannya bisa menjadi bekal untuk kembali dan terus melanjutkan proses belajarnya. 
  • Kedua, sebagaimana bentuk keberlanjutan dalam mendidik, orang tua mempunyai peran besar dalam menetukan arah anak-anak pada saat berlibur, kaitannya dengan bersosmed kita tidak bisa lepas dengan sosial media dia mempunyai dampak buruk di satu sisi juga memberikan manfaat, maka perlu kita melihat dan mengatur anak dalam pemakaiannya, maka dari itu, pondok juga memberikan beberapa catatan agar menjadi petunjuk jalan dalam berkegiatan dirumah,karena bagaimanapun mereka dalam proses pertumbuhan maka perlu diarahkan. Jika tidak dia akan liar seliar liarnya seperti kuda yang baru lepas dari kandangnya. Begitu juga dengan keberagaman profesi wali santri setidaknya bisa membantu, jika menjadi seorang guru maka tugaskan mereka dengan tugas-tugas akademik, jika menjadi seorang pengusaha maka pelan-pelan mulai mengenalkan mereka bagimana cara berwirausaha dengan baik dan sehat, jika menjadi jamaah tabligh (dai) maka mari mengajak mereka dengan khuruj, jika mejadi seorang petani maka latihlah agar bertani yang baik dalam rangka melatih karakter kerja mereka  serta menanamkan jiwa kerja keras jika ingin mendapatkan sesuatu.  Jika semua itu sudah kita jaga bersana maka anak akan terus mendapatkan asupan yang terus berkelanjutan dan berkembang dari sisi akademik dan karakternya.
  • Ketiga, pesan ini disampaikan kepada simpatisan, tokoh masyarakat dan masyarakat luas umum lainnya perlu diingat selalu bahwa pondok adalah Lembaga pendidikan yang tentunya banyak kekurangannya, namun itu manjadi hal yang sangat umum karena bagaimanapun tidak ada lembaga yag tidak punya kekurangan tentunya itu semua akan terus dievaluasi dalam rangka penguatan dari segala lininya, itulah pondok secara umum yang identik dengan kelebihan dan kekurangannya yang terus menutupi kekurangan, menghidupkan nilai-nilai kegamaan, dan selalu memikirkan jangka panjangnya yang berkeabadian untuk umat.
  • Keempat, berpesan juga kepada cipitas lembaga, majlisul a’wan, dan guru-guru untuk senantiasa terus berusaha untuk meningkatkan lembaga, mengevalusi seluruh kagiatan dan proses belajar mengajar baik secara harian, mingguan, bulanan karena itulah yang mejadikan pondok terus exis dalam setiap kegiatannya yang mengarah kepada proses jangka panjangnya. Ketika pondok terus memikirkan kuliatas jangka panjangya ada lima hal yang yang harus senantiasa diingat; pertama, berfiki kualiatas pendidikan dan pengjarannya dan perangkatnya seprti guru-guru, (SDM) sumber daya manusia, kaderesasi harus terus dimunculkan. Kedua, sarana pondok yang harus terus dipikirkan, harus sesuai dengan jumlah dan kebutuhan. Ketiga, ekonomi lembaga harus terus dipikirkan dan dikembangkan yang bertujuan untuk kesejahtraan guru-guru pondok jangka Panjang. Keempat, kaderisasi harus terus bermunculan, bagiamanapun pondok harus diisi oleh orang yang faham betul dengan tujuan panca jangka pondok, faham dengan perjuangan dan falsafah dan itu semua dimiliki oleh orang yang pernah terjun merasakan suasana pondok dan bukan berarti guru luar tidak mampu tentu semua ada hal yang berbeda dengan  arah dan tujuan masing-masing lembaga, tentu kita juga banyak kekurangan namun itu semua kita yakini sebagai peroses perjuangan panjang untuk perkembangan pondok dimasa yang akan mendatang.

        Itulah beberapa hal yang penting yang harus disampaikan dalam acara haflah tersebut, semoga pesan ini bisa memberikan gambaran akan kesungguhan lembaga untuk terus meningkatkan kualitas baik akademik maupun non akademik serta menambah kepercayaan masyarakat kepada lembaga dan pada akhirnya bisa menjadi pusat pembelajaran yang sangat evektif untuk menghidupkan nilai-nilai keagamaan. Amin allahumma Amin. Wallahu a’lam.